Berharap Parpol Tidak Asal Pilih Orang Jadi Kepala Daerah dan Politikus
Oleh Jeremy Huang Wijaya
Ada hal yang menarik dengan tertangkapnya OTT Fadia Rafiq Bupati Pekalongan oleh KPK.
Dimana Fadia Rafiq Bupati Pekalongan mengakui bahwa dirinya tidak paham betul akan aturan tata pemerintahan daerah.
Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK Asep Guntur Rahayu mengungkapkan, Fadia mengaku kepada penyidik bahwa ia tidak memahami birokrasi karena latar belakangnya sebagai penyanyi dangdut.
Dalam pemeriksaan intensif yang dilakukan, FAR (Fadia) menerangkan bahwa dirinya berlatar belakang sebagai musisi dangdut, bukan seorang birokrat serta tidak memahami hukum dan tata kelola pemerintahan daerah,” kata Asep dalam konferensi pers di Gedung Merah Putih, Jakarta, Rabu 4 Maret 2026.
hal yang dilakukan Fadia itu bertentangan dengan asas presumptio iures de iure (teori fiksi hukum).
Hal ini menarik untuk didiskusikan kenapa Parpol kecolongan dalam memilih orang untuk jadi kepala daerah.
Sesudah Reformasi ini banyak terlihat beberapa Parpol memilih publik figur dan artis dicalonkan untuk menaikkan jumlah suara untuk menaikkan suara dan kursi partai di Parlemen atau kepala daerah.
Kemenangan jadi tujuan parpol bukan kualitas yang diutamakan.
Seharusnya setiap parpol dalam memilih Caleg ataupun Calon Kepala Daerah melihat kapasitas dan kapabilitas seorang calon , bukan hanya karena nama terkenal dan kekayaan.
Lucu juga ketika seorang motivator tiba-tiba mendeklarasikan diri menjadi anggota parpol.
Penonton bola belum tentu dapat menjadi pemain bola yang berkualitas.
Kita lihat saat ini ada beberapa artis yang sudah terpilih jadi Anggota DPR dan kepala daerah mengisi acara di Televisi seperti di Acara Arisan ataupun menjadi MC atau juri dalam ajang pencarian bakat.
Seharusnya Artis yang terpilih menjadi Anggota Legislatif terjun ke daerah pemilihannya di saat reses. Bukannya tampil di acara TV. Bertemu rakyat di daerah Pemilihannya.
Parpol harus seleksi ketat di dalam memilih orang untuk menjadi calon legislatif dan calon kepala daerah.
Setiap Calon Kepala Daerah dan Calon Legislatif harus mengenal daerah yang akan dipimpin nya atau daerah yang diwakili nya.
Setiap calon legislatif dan calon kepala daerah harus mengenal kekurangan dan kelebihan tiap daerah yang di pimpin dan diwakilinya.
Calon kepala daerah dan calon legislatif harus mengenal Sosiologi daerah yang akan dipimpin dan diwakili nya.
Kasus Fadia Rafiq seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi parpol.
Hati hati dalam memilih Caleg ataupun Calon Kepala Daerah.jangan membeli kucing dalam karung.
Kapabilitas, kualitas dan pengetahuan harus diutamakan







Comment