4 Usulan Prof Dr Rokhmin Dahuri Dalam Our Ocean Conference/OOC ke 11
4 Usulan Prof Dr Rokhmin Dahuri Dalam Our Ocean Conference/OOC ke 11
Oleh Jeremy Huang Wijaya
Our Ocean Conference/OOC ke-11 diselenggarakan di Mombasa, sebuah kota pesisir di Kenya, pada tanggal 17–19 Juni 2026. Konferensi ini merupakan pertama kalinya Our Ocean Conference diselenggarakan di Benua Afrika.
OOC ke-11 dihadiri oleh lebih dari 4.000 peserta yang terdiri atas Kepala Negara, Menteri, Anggota Parlemen, ilmuwan, peneliti, investor, pelaku usaha, perbankan, perwakilan organisasi non-pemerintah (NGO), organisasi masyarakat sipil, serta jurnalis dari lebih dari 100 negara yang mewakili lima benua di dunia.
Upacara pembukaan yang berlangsung pada Rabu, 17 Juni 2026, secara resmi dibuka oleh Presiden Kenya.
Delegasi Indonesia dipimpin oleh Bapak Sakti Wahyu Trenggono selaku Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. Selain Prof. Rokhmin Dahuri dan Ibu Rina Saadah dari Komisi IV DPR RI, delegasi Indonesia juga terdiri atas Direktur Jenderal Penataan Ruang Laut, staf khusus, para ilmuwan, serta perwakilan organisasi non-pemerintah.
Tema OOC ke-11 adalah “Our Ocean, Our Heritage, and Our Future” (Laut Kita, Warisan Kita, dan Masa Depan Kita). Pada sesi pembukaan, Bapak John Kerry, pendiri Our Ocean Conference, Utusan Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Urusan Kelautan, serta mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, menyampaikan pidato utama yang inspiratif dan menggugah pemikiran.
OOC ke-11 diselenggarakan dalam enam tema utama (sesi pleno), yaitu:
- Pembangunan Ekonomi Biru Berkelanjutan (Sustainable Blue Economic Development);
- Perikanan dan Akuakultur Berkelanjutan (Sustainable Fisheries and Aquaculture);
- Kawasan Konservasi dan Perlindungan Laut (Marine Protected Areas and Conservation);
- Perubahan Iklim dan Lautan (Climate Change and the Ocean);
- Pencemaran Laut (Marine Pollution); dan
- Keamanan Maritim (Maritime Security).
Dalam pidato kuncinya pada sesi pleno bertajuk “Sustainable Blue Economic Development”, Prof. Rokhmin Dahuri menegaskan peran strategis wilayah pesisir dan lautan dunia dalam menjamin ketahanan pangan, ketahanan energi, pengembangan industri farmasi, penciptaan lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi, dan kesejahteraan umat manusia. Lautan juga menjalankan fungsi ekologis yang sangat penting, antara lain sebagai penyerap karbon (carbon sink), pengatur siklus hidrologi, pemelihara siklus biogeokimia, serta berbagai fungsi penunjang kehidupan lainnya. Dengan kata lain, laut dan samudra yang menutupi sekitar 72 persen permukaan bumi bukan hanya penting bagi pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, tetapi juga bagi keberlangsungan peradaban manusia.
Namun demikian, keberlanjutan banyak ekosistem pesisir dan laut di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia, semakin terancam oleh pencemaran, penangkapan ikan berlebih (overfishing), praktik penangkapan ikan ilegal, tidak dilaporkan, dan tidak diatur (Illegal, Unreported and Unregulated Fishing/IUU Fishing), degradasi ekosistem pesisir, hilangnya keanekaragaman hayati, serta perubahan iklim.
Untuk membalikkan tren negatif tersebut sekaligus menjadikan wilayah pesisir dan laut sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkelanjutan, dan menyejahterakan, Prof. Rokhmin Dahuri mengajukan empat rekomendasi utama sebagai berikut:
- Menerapkan Prinsip-Prinsip Ekonomi Biru Berkelanjutan. – Setiap negara perlu mengadopsi dan mengimplementasikan prinsip-prinsip ekonomi biru berkelanjutan, yang mencakup rehabilitasi ekosistem pesisir dan laut yang rusak, penataan ruang laut, pemanfaatan sumber daya hayati laut secara optimal dan berkelanjutan, pemanfaatan sumber daya tidak terbarukan secara ramah lingkungan, pengembangan pariwisata bahari berkelanjutan, penerapan teknologi tanpa limbah (zero-waste technology), teknologi rendah emisi, pengendalian pencemaran, konservasi keanekaragaman hayati, mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, serta peningkatan kesiapsiagaan terhadap bencana alam seperti tsunami dan banjir.
- Memperkuat Penelitian dan Inovasi. – Pemerintah, lembaga akademik, dan sektor swasta perlu meningkatkan investasi dalam penelitian, pengembangan teknologi, dan inovasi guna mendukung pengelolaan sumber daya kelautan yang berkelanjutan.
- Meningkatkan Pengembangan Kapasitas, Pendidikan, dan Pelatihan. – Perhatian yang lebih besar perlu diberikan kepada pendidikan, pelatihan vokasional, dan program peningkatan kapasitas, terutama bagi masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil, guna meningkatkan kesejahteraan dan ketahanan mereka.
- Memperkuat Kolaborasi Internasional. – Negara-negara perlu memperkuat kerja sama internasional di bidang pendidikan, penelitian dan inovasi, investasi dan perdagangan, serta keamanan dan pertahanan maritim untuk menjamin pengelolaan laut dunia yang berkelanjutan.
