Ragam

Tim di Balik Layar Pengujian Sample Covid-19 di Jabar

BANDUNG.SJN COM,-Seorang warga di Kota Bandung sebut saja bernama ‘D’ diambil sampel swab (usap) untuk memastikan apakah dirinya positif COVID-19 dengan metode Real Time Polymerase Chain Reaction (PCR).

Begitu sampel ‘D’ diterima oleh Balai Pengembangan Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Provinsi Jawa Barat (Jabar), berbagai tahap pemeriksaan mulai dari ekstraksi, Real Time PCR, hingga interpretasi dilakukan.

Setelah verifikasi dan validasi, sampel ‘D’ dilaporkan kepada Dinas Kesehatan Jabar dengan ‘D’ dinyatakan negatif. Dari contoh proses itulah, ribuan ‘D’ lainnya pun bisa mendapatkan penanganan yang tepat dari rumah sakit maupun pemerintah.

Dan, nasib ribuan ‘D’ itu berawal dari pekerjaan tangan-tangan para ahli yang ada di balik kaca laboratorium mikrobiologi Labkesda Jabar, salah satunya adalah Kepala Laboratorium Genetika dan Bioteknologi Molekular Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB Azzania Fibriani S.Si.,M.Si.,Ph.D.

“Tes diagnostic (di laboratorium) itu membantu manajemen pasien, apakah pasien itu bisa pulang atau dirawat lagi? Apakah orang ini harus masuk rumah sakit atau bisa isolasi di rumah?” ucap Azzania saat ditemui di Labkesda Jabar, Kamis 9 April 2020.

“Sebetulnya (pekerjaan) kami membantu sekali (terhadap) nasib pasien walaupun kami di balik layar.”

“Teman-teman di sini pun yakin itu akan berguna bagi orang tersebut. Kami berupaya menghasilkan hasil yang valid supaya bisa digunakan rumah sakit atau Dinas Kesehatan untuk menangani pasien tersebut,” tambah sosok yang akrab disapa Nia itu.

Bersama 17 orang lainnya dari Labkesda Jabar, ITB, RSUP Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, tim gabungan yang bekerja di Labkesda Jabar tersebut siang dan malam berkutat dengan RNA, reagen PCR, tabung-tabung juga komputer.

Rutinitas itu memang ‘makanan’ sehari-hari bagi Nia dan ahli biologi lainnya. Laboratorium pun bisa dibilang adalah rumah kedua mereka.

Namun, yang berbeda kali ini adalah pekerjaan mereka menjadi fondasi sekaligus kunci dalam percepatan penanggulangan penyakit COVID-19, yang hingga kini belum ditemukan vaksin untuk melawan virus SARS-CoV-2 itu.

“Karena (hasil lab) betul-betul menentukan tindakan lanjut untuk orang, maka kami juga bekerja sangat hati-hati, oleh karena itu ada kontrol di setiap tahap. Kita tidak bisa mengeluarkan hasil negatif, jika internal control-nya tidak keluar,” kata Nia.

“Kami lebih baik tidak tahu (identitas) sampel itu datang dari mana, mau orang terkenal, mau orang tidak terkenal, semua kami treatment sama. Dari situ kami yakin hasilnya bisa valid, jadi tidak ada perlakuan khusus untuk sampel. Jadi yang kami kerjakan tidak ada bias,” tegasnya.

Meski menjadi salah satu sosok sentral dari ITB di tim gabungan ini, Nia tidak menampik bahwa pekerjaannya ini cukup menguras fisik dan fokus.

“Semua orang work from home, tapi kami harus kerja di laboratorium. Apalagi sekarang anak kelas online, jadi kami (yang di lab) tidak bisa mengurus (anak yang belajar dari rumah),” tuturnya.

“Kita pun belum tahu puncak (pandemi COVID-19 di Jabar) di mana, jadi memang endurance (ketahanan) itu sangat diperlukan untuk kerja di lab, karena kami tidak tahu kerja sampai kapan,” ujar Nia.

Nia pun bercerita, ada delapan orang lain asal ITB yang merupakan mahasiswa dan asisten penelitian yang bekerja secara sukarela di Labkesda Jabar.

“Sebetulnya mereka punya pilihan, bisa di rumah aja atau ikut volunteer di sini. Yang saya lihat, mereka memilih jadi volunteer di sini karena ingin melakukan sesuatu setelah ada outbreak (COVID-19) ini dan mereka punya ilmu yang bisa diterapkan di sini (Labkesda) untuk masyarakat,” ucap Nia.

“Selain itu ada enam orang lain dari Tim Unpad di Gedung Eyckman. Mereka juga membantu mengerjakan Real Time PCR dengan dua alat yang ada,” ujarnya.

Di Labkesda Jabar, pekerjaan Nia turut disokong oleh Aulia Saraswati Wicaksono, S.Si. Analis/ahli biologi dari Laboratorium Mikrobiologi Labkesda Jabar ini mengerjakan proses ekstraksi dari sampel di Viral Transport Media (VTM).

Aulia mengaku, jantungnya kerap berdegup lebih cepat jika sampel yang masuk ke Labkesda bertambah. Ya, artinya, semakin banyak orang terduga COVID-19 di luar sana yang menanti nasib dari hasil pemeriksaan.

“Warga di rumah saja juga membantu kami agar semakin sedikit sampel yang masuk, artinya semakin berkurang orang-orang terduga COVID-19. Kita berdoa saja semoga (pandemi) cepat turun,” ucap Aulia.

“Harapannya jika semakin banyak sampel yang masuk, prosesnya bisa semakin cepat agar lebih banyak yang bisa dikerjakan. Lebih menghemat tenaga kalau alat dan bahannya tersedia,” tuturnya.

Di usia tergolong muda yakni 24 tahun, Aulia kini menambah jam terbangnya dengan memeriksa sampel COVID-19. MeskiĀ  begitu, Aulia berujar, dirinya sudah terbiasa menangani TB dan HIV.

“Malah lebih berbahaya TB karena dikultur dan itu (partikel) aerosol (menular lewat udara),” kata Aulia yang bekerja di Labkesda Jabar sejak Januari 2019.

“Yang pasti saya harus selalu menjaga kesehatan, makanan, gaya hidup, higienisnya. Pulang ganti baju dan mandi, karena selain melindungi diri sendiri saya juga harus melindungi keluarga.”

“Keluarga sudah tahu (risiko pekerjaan), sebelum sampel COVID-19 juga saya mengerjakan TB dan HIV jadi mereka tahu safety precaution saya di kantor dan menerima (pekerjaannya),” ucap Aulia.

Adapun Labkesda Jabar sebagai salah satu laboratorium pemeriksa COVID-19 di Jabar sesuai Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/214/2020 memenuhi syarat utama adanya laboratorium Biosafety Level-2 (BSL-2).

Bagi tim yang mengerjakan sampel COVID-19, Labkesda Jabar dengan sertifikat Biosafety Laboratory 2 Plus dari World Health Organization (WHO) ini pun menerapkan prosedur ketat, mulai Alat Pelindung Diri (APD) lengkap saat proses ekstraksi, cuci tangan, memakai masker (diganti yang baru) setelah dari ruang ekstraksi, dan anjuran untuk mandi setelah mengerjakan ekstraksi.

Labkesda Jabar pun sudah dilengkapi sertifikat Terakreditasi Penuh dari Komite Akreditasi Laboratorium Kesehatan Kementerian Kesehatan RI serta sertifikat akreditasi dari Komite Akreditasi Nasional atas penerapan secara konsisten SNI ISO/IEC 17043:2010.

Selain bicara soal kesiapan alat dan petugas laboratorium, Labkesda Jabar juga terus berupaya meningkatkan sistem yang ada, termasuk dengan menggandeng Jabar Digital Service dan Tim Tanggap COVID-19 Jawa Barat. Tim yang terakhir disebut, merupakan kerja sama antara Labkesda Jabar, Tim Support, ITB dan Unpad.

Koordinator Tim Support Tim Tanggap COVID-19 Jawa Barat Amalia Ulfah Sandra mengatakan, sebanyak lima orang anggota Tim Support termasuk dirinya telah menjadi relawan non medis di Labkesda sejak 15 Maret lalu.

“Total anggota (Tim Tanggap COVID-19 Jawa Barat) ada sekitar 50-an orang, sedangkan yang non medis (di Labkesda) lima orang dari Tim Support dan kemungkinan anggota tim akan bertambah seiring dengan kebutuhan,” ujar Amalia.

“Tugas dan peran Tim Support (di Labkesda) adalah membantu tim lab COVID-19 dalam menyelesaikan kendala-kendala laboratorium,” tambah lulusan Keamanan Nasional Unhan ini.

Amalia berujar bahwa timnya juga membantu bagian administrasi, pengarsipan data dari sampel saat pertama diterima di Labkesda, serta membantu urusan alat dan logistik, termasuk pengadaan alat via dana non-APBD dan kajian optimasi laboratorium Jabar.

Selain Amalia, empat orang Tim Support yang menjadi relawan non medis di Labkesda adalah Muhammad Fajri Arief Mahmuda (ITB), Musa Mujaddid Imaduddin (ITB), Farhan Fazlur Rahman (ITB), dan Adhy Satya Dharma Octavia.

Amalia mengatakan, tantangan bagi timnya dalam menyokong sistem di Labkesda Jabar adalah mempersiapkan lab khusus untuk pemeriksaan COVID-19 dengan fungsi asal merupakan laboratorium untuk TB.

“Tim Support ini membantu membentuk sistem (lab COVID-19) tersebut, termasuk kebutuhan penunjang optimasi lab demi mewujudkan laboratorium yang bisa melakukan tes dengan optimal di Jawa Barat,” ujar Amalia.

(hms/die)