Politik

Menuju Kursi Tahta 2024

Bandung.Swara Jabbar Com.-

Oleh Jeremy Huang Wijaya

生命中,没有什么瞬间必须经历生命的过程,没有一棵树在我们种下种子后立即结果

Shēngmìng zhòng, méiyǒu shé me shùnjiān bìxū jīnglì shēngmìng de guòchéng, méiyǒu yī kē shù zài wǒmen zhǒng xià zhǒngzǐ hòu lìjí jiéguǒ artinya dalam kehidupan tidak ada yang instan harus melewati proses kehidupan, tidak ada pohon yang langsung berbuah ketika kita tanam bijinya.

Pemilu 2024 tinggal 14 bulan lagi, para calon peserta pemilu 2024 mulai sibuk mencari kawan koalisi untuk 2024. Padahal belum tentu partai yang duduk di kursi legislatif pusat saat ini dapat mencapai parlemen threshold di Pemilu 2024. Sedangkan partai pendatang calon peserta pemilu 2024 sibuk mencari dukungan untuk dapat memenuhi syarat sebagai parpol peserta pemilu. Karena Desember 2022 nanti KPU akan mengumumkan calon peserta pemilu 2024.

Padahal saat ini terjadi banyak bencana banjir dan longsor. Belum terlihat atau belum terekspos mereka kunjungi daerah bencana. Akhir tahun 2022 banyak bencana banjir dan longsor. Mungkin juga akan berlanjut hingga awal 2023. Mungkin juga akan ada gempa karena kita berada di atas lempeng aktif yang terus bergerak. Gempa skala besar di 2023 mungkin bisa terjadi tetapi tidak dapat diprediksi. Rawan Pangan karena cuaca dan iklim yang tidak menentu mungkin dapat terjadi.

Saat ini mereka lupa bahwa dunia saat ini sedang dilanda resesi ekonomi global. Membuat banyak perusahaan PHK karyawan supaya perusahaannya tidak bangkrut dapat tetap berjalan. Banyak perusahaan kesulitan Eksport ke Amerika dan Eropa karena Resesi Ekonomi Global.

Isu resesi dunia berhembus semakin kencang belakangan ini. Inflasi tinggi melanda berbagai negara membuat bank sentralnya agresif menaikkan suku bunga.
Bank sentral Amerika Serikat (The Fed) misalnya, sepanjang tahun ini kenaikannya sebesar 300 basis poin, menjadi 3% – 3,25% dan masih akan terus berlanjut.

Pada November nanti, bank sentral paling powerful di dunia ini diperkirakan akan menaikkan lagi sebesar 75 basis poin menjadi 3,75% – 4%. Tidak cukup sampai di situ, kenaikan masih akan terus dilakukan hingga awal tahun depan.

Sementara itu negara China Super Power Ekonomi Dunia Dikutip dari CNBC Indonesia 26 Oktober 2022 Defisit fiskal China mencapai level tertinggi sepanjang masa, yakni 7,16 triliun yuan atau setara Rp 15.505 triliun sepanjang periode Januari-September 2022. Jumlah ini hampir tiga kali lipat defisit 2,6 triliun yuan pada periode yang sama tahun lalu.

Angka tersebut berdasarkan analisis data pemerintah oleh Bloomberg yang dirilis Kementerian Keuangan China, Selasa (25/10/2022). Penyebab utamanya, krisis real estat dan potongan pajak negara tersebut.
Secara keseluruhan, pendapatan pemerintah turun 6,6% menjadi 15,3 triliun yuan dari Januari hingga September akibat pemerintah memberikan lebih banyak potongan pajak untuk bisnis.

Di sisi lain, pengeluaran fiskal naik 6,2% menjadi 19,04 triliun yuan dalam sembilan bulan pertama. Ini menyusul dorongan infrastruktur yang didorong pemerintah untuk mendorong pertumbuhan dan menciptakan lapangan kerja.

China juga sedang berjuang melawan krisis di sektor real estatnya, yang menghasilkan lebih dari seperempat produk domestik bruto (PDB) negara itu bila digabungkan dengan konstruksi. Pada Oktober, harga rumah bekas turun dengan tingkat bulanan tertinggi sejak 2014.

“Pasar perumahan masih terjebak dalam spiral ke bawah, permintaan global akan ‘mendingin’ lebih lanjut, dan renminbi yang lemah membatasi kemampuan bank sentral untuk memberikan dukungan kebijakan,” kata Julian Evans-Pritchard dari Capital Economics.

Permintaan konsumen juga merosot akibat penguncian (lockdown) mendadak dan pembatasan perjalanan yang ketat di bawah kebijakan ketat nol-Covid Beijing. China adalah yang terakhir dari ekonomi utama dunia yang masih berpegang pada strategi nol-Covid.

“Tidak ada tanda yang jelas dari pelonggaran signifikan dari strategi nol-Covid,” kata Ting Lu, kepala ekonom China di Nomura, menambahkan bahwa setidaknya 207 juta orang berada di bawah semacam penguncian di 28 kota di China awal pekan ini.

Adapun, ekonomi China tumbuh 3,9% year-on-year (yoy) pada kuartal III-2022 dan berada di atas ekspektasi para ekonom.
“Momentum pemulihan ekonomi sebenarnya tidak kuat,” tambahnya.

Pemutusan hubungan kerja (PHK) terus terjadi di sejumlah perusahaan besar dunia. Terbaru adalah produsen perangkat medis Belanda, Philips.
Dalam pengumuman Senin (24/10/2022), perusahaan mengaku akan memangkas 4.000 pekerja. Produk respiratornya yang gagal di pasar menjadi penyebab perusahaan mengalami kerugian.

“Penghapusan 1,3 miliar euro (Rp 19 triliun) untuk mesin yang rusak mendorong perusahaan ke dalam kerugian bersih dengan jumlah yang sama,” kata perusahaan itu dalam sebuah pernyataan dimuat AFP
Ini menjadi hantaman baru untuk perusahaan yang sebelumnya bergerak di bidang elektronik konsumen tersebut. Philips sendiri, baru masuk ke medis selama 12 tahun.

“Prioritas langsungnya adalah untuk meningkatkan eksekusi sehingga kami dapat mulai membangun kembali kepercayaan pasien, konsumen dan pelanggan, serta pemegang saham dan pemangku kepentingan kami yang lain,” tegas Kepala Eksekutif Roy Jakobs.

“Ini termasuk keputusan yang sulit tetapi perlu untuk segera mengurangi tenaga kerja kami, sekitar 4.000, secara global,” tambahnya.
Philips sendiri saat ini mempekerjakan hampir 80.000 orang. Mereka tersebar di 100 negara.

Dikutip dari CNBC Indonesia 24 Oktober 2022 – Gelombang resesi dan krisis global sudah mulai terasa pada sejumlah industri dalam negeri saat. Sebagian perusahaan ada yang mulai merumahkan karyawannya untuk menekan biaya operasional meski belum pada pemutusan hubungan kerja (PHK).
Meski tidak masif terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK), namun kebijakan merumahkan itu juga menjadi hantu bagi kalangan pekerja. Ada juga dengan cara mengurangi waktu kerja para karyawan umumnya terjadi di sektor padat karya.

Sebagian besar pekerja yang terkena fenomena ini berasal dari sektor padat karya. Berikut beberapa industri yang sudah merumahkan karyawannya:

Industri Tekstil

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jemmy Kartiwa Sastraatmadja mengungkapkan, sudah ada beberapa pabrik yang sudah meliburkan Sabtu-Minggu, ada juga yang kini hanya kerja 4-5 hari seminggu, hingga mematikan 1 hingga 2 lini produksinya.

“Ini akibat pelemahan global dan sudah kita rasakan terutama selama 2 bulan terakhir,” ujar Jemmy.
Lebih parahnya lagi, Jemmy mengatakan hal ini juga berimbas kepada 45 ribu orang buruh industri TPT yang sudah dirumahkan hingga saat ini.

“45 ribu orang saya pikir ada, dari hulu ke hilir industri TPT. Bukan cuma anggota API, nggak cuma pabrik garmen. Ada pabrik pemintalan, pencelupan, tenun, ada garmen,” ujarnya.
Industri Logistik-Alat Berat

Presiden Asosiasi Serikat Pekerja Indonesia (Aspek) Mirah Sumirat mengungkapkan, masih ada karyawan yang dirumahkan sejak tahun 2020 belum kembali bekerja hingga saat ini. Bahkan, kata dia, ada yang akhirnya diberhentikan.

Menurut Mirah, gelagat PHK yang berawal dari status dirumahkan memang marak dialami buruh yang jadi anggota Aspek.

“Tahun 2020-2021 sangat luar biasa PHK massal dan dirumahkan tanpa upah. Tahun 2022 mulai bergerak bangkit, banyak kawan kembali kerja, tapi ada juga anggota yang dirumahkan sampai detik ini. Katanya dipatenkan (berhenti),” ujar Mirah kepada CNBC Indonesia.

Padahal, imbuh dia, kondisi perusahaan masih berjalan dan tetap berproduksi meski terjadi penyesuaian. Seharusnya, kata dia, menghentikan karyawan menjadi opsi terakhir ketika sudah tidak bisa lagi bertahan.
“Tapi perusahaan ini bagus, upah berjalan, dan kebanyakan yang kena di staf, tapi produksi jalan terus. Bahkan 2020 kerja biasa, ada beberapa hari yang ganti-gantian,” kata Mirah

“Menyampaikan rugi, tapi ga jelas juga akuntabilitasnya, bilang rugi tapi langsung PHK juga, atau pagi kerja, sore di PHK. Jadi masih terjadi,” lanjutnya.

Industri Garmen-Sepatu Ancaman pengurangan karyawan sudah mulai terlihat di industri padat karya. Kalangan buruh mengungkapkan bahwa banyak anggotanya yang sudah mulai mengurangi hari kerja, bahkan tidak sedikit yang akhirnya dirumahkan.

“Sampai saat ini yang dirumahkan panjang, artinya sebulan nggak kerja, paling nggak untuk anggota hampir 5.000-an, termasuk di industri tekstil, garmen, sepatu juga,” kata Ketua Federasi Serikat Pekerja Tekstil Sandang dan Kulit – Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (FSP TSK SPSI) Roy Jinto kepada CNBC Indonesia dikutip Senin (24/10/2022).

Fenomena ini terjadi akibat adanya penurunan permintaan, utamanya untuk pasar ekspor. Akibatnya pekerjaan menjadi lebih sedikit dan buruh yang menerima konsekuensinya, yakni tidak bisa bekerja secara normal bahkan untuk karyawan kontrak sudah mulai dilepas.

Ancaman pengurangan karyawan sudah mulai terlihat di industri padat karya. Kalangan buruh mengungkapkan bahwa banyak anggotanya yang sudah mulai mengurangi hari kerja, bahkan tidak sedikit yang akhirnya dirumahkan.

“Sampai saat ini yang dirumahkan panjang, artinya sebulan nggak kerja, paling nggak untuk anggota hampir 5.000-an, termasuk di industri tekstil, garmen, sepatu juga,” kata Ketua Federasi Serikat Pekerja Tekstil Sandang dan Kulit-Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (FSP TSK SPSI) Roy Jinto.
Industri Serat dan Benang Filament

Ketika industri garmen di dalam negeri terpukul akibat banyaknya pembatalan dan pemangkasan order ekspor, maka di sektor hulu yakni serat dan Benang Filament juga terkena dampaknya
Banyak perusahaan di hulu harus memangkas produksi. Akibatnya kini marak perusahaan TPT di dalam negeri merumahkan karyawannya.

banyak yang menurunkan kapasitas karena stok menumpuk. Efeknya, jadinya merumahkan karyawan. Sampai saat ini memang tidak ada PHK, kami berharap tidak akan ada PHK. Mudah-mudahan, awal tahun depan, harga komoditas membaik sehingga pasar domestik bisa menopang,” Ketua Umum Asosiasi Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta.
Pembatalan order, kata dia, terutama terjadi untuk pasar AS dan Uni Eropa. Menyusul, lonjakan biaya energi yang membuat konsumsi garmen terpangkas.

“PR kami sekarang bagaimana supaya mempertahankan tenaga kerja. Jangan sampai ada PHK. Sekarang sudah banyak yang merumahkan karena produksi turun, ada yang sampai 50%,” kata Redma.

Sedih belum ada kepedulian dari parpol parpol kepada mereka yang terkena PHK. Mereka sibuk mencari kawan koalisi 2024. Padahal untuk memenangkan pertandingan harus ada persiapan matang, harus latihan dan kerja keras. Seharusnya saat ini parpol parpol turun ke masyarakat. Membantu Rakyat kecil yang terkena PHK bukan mencari kawan koalisi untuk 2024