Beban dan Harapan Kelas menengah
Beban dan Harapan Kelas menengah
Oleh Jeremy Huang Wijaya
Beban hidup kelas menengah bertambah berat sesudah naiknya dollar, harga Pertamax 16.500, kenaikan harga harga. Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mempersilakan perusahaan farmasi menaikkan harga obat naik 10-20 persen imbas pelemahan rupiah.
Saat ini ada masalah baru yaitu lapangan kerja untuk anak anak mereka.
Banyak orang tua mendambakan memiliki harapan anaknya untuk meraih gelar sarjana, mereka bekerja mati Matian untuk membiayai anaknya meraih gelar Sarjana, mereka begitu bangga, ketika anaknya diwisuda menjadi sarjana dengan harapan sesudah anaknya menjadi sarjana, akan mendapatkan pekerjaan untuk mengurangi beban orang tua dalam mencari nafkah minimal untuk dirinya sendiri.
Tetapi baru baru ini Bank Dunia mengeluarkan release memperingatkan penurunan porsi pekerja kelas menengah Republik Indonesia dari 14,5 persen turun menjadi 7 persen. Kualitas lapangan kerja jadi masalah struktural
Bank Dunia (World Bank) memberikan peringatan terhadap kondisi kelas menengah Indonesia. Meski pasar tenaga kerja sudah mengalami perbaikan, kualitas lapangan kerja dinilai masih menjadi masalah struktural.
Catatan itu tertuang dalam laporan Indonesia Economic Prospects edisi Juni 2026. Sebanyak 1,9 juta lapangan kerja baru berhasil diciptakan selama periode Agustus 2024-2025 dan tingkat pengangguran sedikit menurun menjadi 4,9%, namun hampir separuh dari lapangan kerja baru tersebut berasal dari sektor-sektor dengan tingkat produktivitas lebih rendah.
“Hampir separuh dari lapangan kerja baru tersebut berasal dari sektor-sektor dengan tingkat produktivitas lebih rendah seperti pertanian dan akomodasi/jasa makanan. Di sisi lain, sektor-sektor berketerampilan lebih tinggi seperti jasa keuangan, justru stagnan atau mengalami kontraksi,” tulis laporan Bank Dunia dikutip Jumat (12/6/2026).
Banyak perusahaan lebih memilih lulusan SLTA dengan harapan dapat memberikan gaji yang lebih murah.
