Prof Dr Rokhmin Dahuri Perkuat Mitigasi, Benahi Irigasi, Siapkan Benih Adaptif
Prof Dr Rokhmin Dahuri Perkuat Mitigasi, Benahi Irigasi, Siapkan Benih Adaptif
Oleh Jeremy Huang Wijaya
Saat ini kita menghadapi El Nino, kemarau yang panjang, di beberapa daerah sudah tidak turun hujan sejak Juni 2026.
Prof DR Rokhmin Dahuri. M.S., menegaskan bahwa pemerintah harus segera memperkuat langkah mitigasi dan adaptasi dalam menghadapi fenomena El Nino Yang berpotensi menyebabkan kemarau panjang dan kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia.
Prof Dr Rokhmin Dahuri menilai bahwa langkah antisipasi pemerintah masih belum optimal, terutama dalam memastikan ketersediaan air bagi sektor pertanian. Padahal keterbatasan air dapat mengganggu musim tanam, menurunkan produktivitas pertanian, meningkatkan resiko gagal panen dan pada akhirnya mengancam ketahanan pangan serta kesejahteraan petani.
Menurut Prof Dr Rokhmin Dahuri Salah satu kelemahan utama dalam menghadapi El Nino adalah belum maksimal nya upaya memanen air hujan. Ketika curah hujan masih tinggi pada Mei dan Juni, pemerintah pusat dan daerah seharusnya telah menampung sebanyak mungkin air sebagai cadangan untuk menghadapi musim kemarau.
Pemanenan air dapat dilakukan melalui pembangunan dan revitalisasi embung, kolam retensi, waduk kecil, tandon toren atau menara air di tingkat desa, serta berbagai fasilitas penyimpanan air lainnya. Infrastruktur tersebut harus dibangun terutama di wilayah sentra produksi pangan dan daerah yang secara historis sering mengalami kekeringan.
Menurut Prof Dr Rokhmin Dahuri Pemerintah seringkali terlambat dalam mengantisipasi dampak musim kemarau, seharusnya sejak Mei dan Juni ketika hujan masih melimpah, air sudah ditampung dalam bentuk embung, waduk, tandon dan menara air di desa desa. Jangan setelah kekeringan terjadi, baru pemerintah bergerak, tegas Prof Dr Rokhmin Dahuri.
Selain memperbanyak cadangan air, pemerintah harus melakukan perawatan dan optimalisasi waduk serta menormalisasi jaringan irigasi secara menyeluruh. Saluran irigasi yang mengalami pendangkalan, kerusakan, kebocoran atau tersumbat harus segera diperbaiki agar air dapat mengalir secara efektif menuju lahan pertanian.
Normalisasi Irigasi tidak boleh hanya dilakukan setelah petani mengalami kesulitan air. Pemerintah harus memiliki pemetaan kondisi jaringan irigasi hingga tingkat kabupaten atau kota, kecamatan, dan desa, sehingga perbaikan dapat dilaksanakan berdasarkan tingkat kerusakan, luas lahan yang dilayani dan resiko kekurangan yang dihadapi.
Prof Dr Rokhmin Dahuri juga mendorong pemerintah menyiapkan benih tanaman pangan dan hortikultura yang adaptif terhadap perubahan iklim. Petani harus memperoleh akses terhadap varietas padi, jagung, kedelai dan komoditas lainnya yang tahan terhadap kekeringan, suhu tinggi, perubahan pola musim, serta serangan Hama dan penyakit.
Penyediaan benih adaptif harus disertai dengan penyesuaian kalender tanam, penyuluhan kepada petani, pemanfaatan teknologi pertanian, pengendalian hama dan penyakit secara terpadu, penyediaan pompa air serta perlindungan terhadap resiko gagal panen, Dengan demikian, petani tidak dibiarkan menghadapi dampak El Nino seorang diri.
Langkah muti juga perlu mencakup diversifikasi usaha dan komoditas pertanian. Ketergantungan yang terlalu besar pada satu jenis komoditas membuat sistem pangan nasional lebih rentan terhadap gangguan iklim. Pemerintah perlu mendorong petani mengembangkan pola tanam dan usaha pertanian yang lebih beragam sesuai dengan kondisi agroekologi setiap daerah.
Dalam konteks ketahanan pangan. Prof Dr Rokhmin Dahuri mengingatkan bahwa sumber karbohidrat masyarakat Indonesia tidak boleh hanya bergantung pada beras. Indonesia memiliki berbagai pangan lokal yang berpotensi dikembangkan seperti sagu, jagung, singkong, ubi, sorgum dan komoditas lainnya.
Sagu menurut Prof Dr Rokhmin Dahuri Memiliki ketahanan yang sangat baik terhadap kondisi lingkungan ekstrem dan berpotensi menjadi salah satu sumber pangan strategis dalam menghadapi perubahan iklim. Pengembangan sagu tidak hanya cukup dilakukan pada tingkat produksi tetapi harus didukung melalui riset, tekhnologi, pengolahan, industri hilir, standarisasi mutu, diversifikasi produk, perluasan pasar serta edukasi kepada masyarakat.
Diversifikasi pangan juga tidak boleh dimaknai sebagai pengganti beras secara tiba tiba, kebijakan tersebut harus dibangun secara sistematis dengan memperkuat produksi pangan lokal, meningkatkan kualitas dan daya tarik produk, menjamin harga yang menguntungkan petani, mengembangkan industri pengolahan serta memasukkan pangan lokal ke dalam program konsumsi sekolah, pasar modern dan bantuan pangan.
Prof Dr Rokhmin Dahuri menegaskan bahwa menghadapi El Nino membutuhkan kerja terpadu antara BMKG , kementerian Pertanian, Kementerian Pekerjaan Umum, Badan Pangan Nasional, pemerintah daerah, pemerintah desa, perguruan tinggi, dunia usaha, kelompok tani dan masyarakat.
Informasi prakiraan cuaca dan iklim dari BMKG harus diterjemahkan menjadi kalender tindakan yang kongkrit dan terukur. Setiap daerah harus mengetahui kapan harus mulai menampung air, memperbaiki irigasi, menyesuaikan musim tanam, mendistribusikan benih adaptif, mengoperasikan pompa, serta melindungi petani dan masyarakat yang paling rentan.
Pemerintah tidak boleh selamanya terus bekerja dengan pola pemadam kebakaran yakni baru mengambil tindakan setelah kekeringan, gagal panen dan kenaikan harga pangan terjadi. Pencegahan dan mitigasi sejak dini selalu lebih murah, lebih efektif dan lebih berkeadilan dibandingkan penanganan krisis setelah dampaknya meluas.
Ketahanan pangan nasional hanya dapat dijaga apabila pemerintah mampu memastikan ketersediaan air, memperbaiki infrastruktur irigasi, menyediakan benih yang sesuai dengan perubahan iklim, melindungi petani, mengendalikan Hama dan penyakit, serta memperkuat disversifikasi pangan berbasis potensi lokal.
Dengan perencanaan yang matang, kebijakan berbasis ilmu pengetahuan, koordinasi yang kuat dan pelaksanaan yang cepat hingga tingkat desa dampak El Nino terhadap produk pangan dapat ditekan. Pada saat yang sama momentum ini harus dimanfaatkan untuk membangun sistem pertanian Indonesia yang lebih tangguh, produktif beragam, berkelanjutan dan mampu meningkatkan kesejahteraan petani serta seluruh rakyat Indonesia.*
