Pelatihan Trauma-Informed Care For First Responder Pada Guru Di Kota Bandung

Bandung.Swara Jabbar News Com.-Sebagai bentuk respons nyata dunia akademik terhadap krisis perundungan di lingkungan sekolah, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Program Studi Psikologi FIP UPI yang diketuai oleh Dr. Sri Maslihah, M.Psi., Psikolog., berhasil menyelenggarakan “Pelatihan Trauma-Informed Care for First Responder pada Guru”. Berlangsung pada 5 hingga 6 Mei 2026, kegiatan ini diikuti oleh 20 guru SMP se-Kota Bandung. Mengusung tema “Guru Siaga Bullying – Understanding, Preventing, and Taking Action Together”, acara tersebut berjalan dalam suasana yang hangat dan interaktif. Para pendidik tidak sekadar menerima materi secara pasif, melainkan terlibat aktif dalam diskusi kelompok dan simulasi langsung mengenai cara menangani siswa korban bullying.
Pelatihan dibuka oleh Wakil Dekan Bidang Akademik FIP UPI
Kegiatan pelatihan ini dibuka langsung oleh Dr. Sardin, M.Si., selaku Wakil Dekan Bidang Akademik FIP UPI. Beliau menekankan bahwa perundungan merupakan krisis psikologis yang nyata, sehingga guru wajib mengambil peran strategis sebagai first responder dan pelindung utama para siswa. Pesan kuat ini semakin memantik semangat para peserta sejak awal acara, mengubah nuansa pembukaan yang formal menjadi ruang pertemuan yang penuh empati dan komitmen bersama.

Dua Hari Intensif: Dari Konsep Menuju Praktik.

Hari pertama pelatihan dibuka dengan pembedahan komparatif mengenai ragam manifestasi perundungan di era modern. Fenomena ini tidak lagi terbatas pada kekerasan fisik atau intimidasi verbal verbal semata. Para peserta dituntun untuk memahami bahaya laten dari perundungan relasional (pengucilan sosial) hingga bahaya cyberbullying yang kian agresif di ranah digital. Seluruh materi dihantarkan melalui pendekatan yang membumi dan lekat dengan dinamika keseharian sekolah, diperkaya dengan studi kasus otentik untuk memicu analisis aktif.
Melalui sesi bedah kasus tersebut, pemikiran para guru mulai terbuka. Mereka menyadari bahwa banyak interaksi negatif antar-siswa yang selama ini kerap diabaikan dan dianggap “sekadar gurauan remaja”, nyatanya berpotensi menanamkan luka psikologis yang mengakar dalam. Guna mengantisipasi hal ini, pelatihan berlanjut pada pengenalan instrumen penilaian sederhana. Alat ukur ini berfungsi sebagai basis deteksi dini agar guru dapat mengenali sinyal-sinyal perubahan perilaku pada siswa yang berpotensi menjadi korban maupun pelaku.
“Selama ini kami menangani bullying secara konvensional, sebatas memanggil siswa atau menjatuhkan sanksi disiplin. Namun, lewat pelatihan ini saya disadarkan bahwa korban membutuhkan pendekatan yang jauh lebih manusiawi dan aman.”
Hari Kedua: Menyelami Neurosains Trauma Dan Pemulihan.

Memasuki hari kedua, kedalaman materi ditingkatkan melalui eksplorasi dampak trauma perundungan berbasis neurosains. Perspektif ilmiah ini menjadi khazanah baru yang sangat berharga bagi mayoritas guru, mengingat pemahaman logis-biologis seperti ini jarang diakomodasi dalam pelatihan keguruan standar. Peserta diajak melihat bagaimana trauma akibat kekerasan mental terbukti mampu mendistorsi arsitektur dan cara kerja otak anak, yang pada gilirannya membentuk pola pikir defensif, hambatan kognitif, serta ledakan emosional jangka panjang.
Fondasi neurosains inilah yang mempertegas alasan mengapa pendekatan trauma-informed care mutlak diperlukan di institusi pendidikan. Guru tidak lagi diposisikan secara kaku sebagai penegak aturan formal semata, melainkan berevolusi menjadi figur pelindung yang mampu menginkubasi rasa aman bagi tumbuh kembang anak.
Di samping aspek penguatan interpersonal, guru juga dibekali dengan sistem pelaporan anonim. Sistem ini dirancang untuk memfasilitasi suara korbannya agar berani melapor tanpa dihantui ketakutan akan intimidasi balik atau stigma sosial dari lingkungan sekitar.
Pelatihan Trauma-Informed Care for First Responder pada Guru diselenggarakan oleh tim PKM Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia.
