Ekonomi

Sejarah Toko Kelontong

Bandung.Swara Jabbar Com.-

Oleh Jeremy Huang Wijaya
人生的赢家,不是永不失败,也不是永不失败,而是不沉不沉,不败不败,才能升起,再试一次,才能取得胜利和成功
Rénshēng de yíngjiā, bùshì yǒng bù shībài, yě bùshì yǒng bù shībài, ér shì bù chén bù chén, bù bài bù bài, cáinéng shēng qǐ, zài shì yīcì, cáinéng qǔdé shènglì hé chénggōng pemenang kehidupan itu bukannya tidak pernah gagal, dan bukannya tidak pernah kalah, tetapi tidak tenggelam dan tidak hanyut dalam kegagalan dan kekalahan dapat bangkit, mencoba kembali meraih kemenangan dan kesuksessan. Itulah kehebatan para pedagang yang tangguh.
Sejak abad ke 3 diperkirakan kedatangan pedagang dari Tiongkok ke Nusantara. Mereka berdagang kain sutra. Kemudian abad ke 14 dipimpin Laksamana Cheng Ho, mereka berdagang keramik dan Sutra.
Kedatangan Rombongan besar yang dipimpin Laksmana Cheng Ho membawa ahli masak, ahli pengobatan, ahli arsitektur dan ahli seni.
Ada beberapa orang yang menetap di tiap daerah yang dikunjungi Cheng Ho di Nusantara. Mereka masyarakat Tionghoa yang ahli masak membuka rumah makan, ada juga yang memproduksi kecap, tahu, memproduksi gula dan lain lainnya.
Mereka masyarakat Tionghoa yang tidak memiliki keahlian apa apa, mereka menjadi pedagang keliling sambil dipikul ketika menjajakan dagangannya. Ada juga yang didorong ketika keliling menjual aneka barang kebutuhan seperti baju, celana, panci dan lain lain sambil membunyikan semacam lonceng sapi jadi ketika mereka keliling membunyikan lonceng kecil berbunyi kelontong kelontong. Oleh sebab itu pedagang yang menjual berbagai macam aneka produk barang dagangan disebut pedagang kelontong.
Ketika mereka menetap di suatu daerah dan membuka toko barang kebutuhan sehari hari disebut toko kelontong karena mereka tetap membunyikan lonceng sapi. Dan dinamakan toko kelontong. Ketangguhan pedagang kelontong giat bekerja keliling menjual barang dagangan dalam berbagai cuaca baik itu panas atau hujan
Dulu di Cirebon daerah yang menjadi pusat toko kelontong hingga tahun 2000an adalah Siliwangi depan pasar pagi, pekiringan. Pasuketan sampai saat ini masih menjadi pusat toko kelontong
Sampai tahun 90an masyarakat tionghoa yang tinggal di karanggetas, adalah pusat perdagangan tembakau dan toko emas. Tetapi masyarakat tionghoa yang tinggal di daerah karanggetas yang berbatasan dengan Pagongan dan Siliwangi umumnya menjual toko besi dan furniture. Pagongan menjadi pusat perdagangan toko besi dan kuliner.
Masyarakat Tionghoa yang tinggal di Parujakan dan Pekalipan sampai saat ini menjual hasil bumi. Tetapi sampai tahun 90an Masyarakat Tionghoa yang tinggal di Pekalipan dan Lawanggada banyak yang menjual ikan asin kering. Di Pagongan ada juga warga Tionghoa yang menproduksi kecap sampai saat ini. Dulu banyak warga Tionghoa yang tinggal di Karanggetas, Pekiringan dan Winaon banyak yang menjual aneka bahan jamu seperti temu lawak, kunyit, jahe, mesoyi, kayu manis, adas, cengkeh, kapol, cabe Jamu dan lain lainnya.