Pemerintahan

Pemda Provinsi Jabar Bekali Santri Kemampuan Cek Fakta Mandiri

Depok.Swara Jabbar Com.-Generasi muda, khususnya kalangan santri.

Dengan dasar populasi telepon pintar didominasi kalangan muda, maka generasi muda diarahkan agar dapat memanfaatkan kemajuan teknologi digital sebaik-baiknya.

“Kegiatan Kejar Tabbayun merupakan program mencerdaskan santri dari dunia media sosial. Ada manfaat luar biasa menyangkut pendidikan, ekonomi, dan komunikasi. Tapi kadang ada mudaratnya, medsos dijadikan alat bully , hoaks, itu kemudaratan bagi orang, kolompok, bahkan negara,” ucap Uu Ruzhanul.

Oleh karena sebagian besar pelaku media sosial merupakan anak muda, maka kegiatan sosialisasi ini diberikan kepada pesantren.

Kegiatan diseminasi tersebut digelar oleh Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jabar dan Jabar Saber Hoaks (JSH), juga sebagai komitmen implementasi Perda Provinsi Jabar Nomor 1 Tahun 2021 tentang Fasilitasi Penyelenggaraan Pesantren.

Pada keempatan tersebut Wagub Uu Ruzhanul mengimbau pula kepada masyarakat agar memanfaatkan lompatan teknologi apapun untuk kegiatan positif dan bermanfaat.

Dengan begitu, teknologi dapat menjadi media pengembangan potensi diri sehingga turut menyuplai informasi bahkan ilmu bagi generasi muda.

“Pemuda sebagai penerus perjuangan, pemimpin di masa datang, maka harus punya kekuatan dan kemampuan ilmu, amal, dan iman,” kata Uu.

“Kita sebaliknya jangan sampai menghadirkan turunan yang lemah karena malah akan jadi beban negara,” tambah Uu.

Menurutnya, dengan bantuan teknologi, termasuk media sosial, maka generasi muda dapat mempersiapkan kemampuan diri untuk bersaing di era disruptif, dengan demikian skill untuk memilah informasi harus benar- benar ditanamkan sejak dini.

Pemda Provinsi Jabar pun secara masif akan melaksanakan diseminasi bahaya berita hoaks dengan membidik kalangan pesantren di 27 kabupaten/ kota di Jabar.

Ketua Jabar Saber Hoaks Alfianto Yustinova menyampaikan, program Kejar Tabbayun merupakan program pelatihan cek fakta mandiri bersama Tim JSH.

“Program ini untuk mengedukasi masyarakat agar semakin banyak masyarakat Jawa Barat terliterasi digital dengan baik,” kata Alfianto.

“Sehingga secara mandiri santri dapat mengidentifikasi suatu informasi yang beredar hoaks atau tidak,” ucapnya.