Regional

Jangan ada Sengkuni diantara kita

Bandung.Swara Jabbar Com.-

Oleh Jeremy Huang Wijaya

这辈子,你不仅要聪明、漂亮、漂亮,还要有舒缓、平和的性格
Zhè bèizi, nǐ bùjǐn yào cōngmíng, piàoliang, piàoliang, hái yào yǒu shūhuǎn, pínghé dì xìnggé artinyadalam kehidupan ini tidak hanya cerdas, wajah cantik dan rupawan tetapi harus memiliki karakter sifat yang menyejukkan dan kedamaian.

Nama Sengkuni dari dulu sampai saat ini menjadi topik pembicaraan yang hangat.
Sangkuni merupakan pangeran dari kerajaan Gandara. Digambarkan sosoknya tegap dan rambut dikucir sebelum di penjara oleh Destarata

Karakter Sengkuni digambarkan sebagai sosok yang antagonis yang suka memfitnah, adu domba, licik, penuh tipu daya, senang membicarakan kejelekan orang lain, suka nyinyir sinis jika bicara, memecah belah persatuan, dan cari muka kepada kekuasaan.

Sangkuni sering dieja dengan nama Sengkuni. Ketika para Korawa berkuasa di Kerajaan Hastina, ia diangkat sebagai patih. Dalam pewayangan Sunda, ia juga dikenal dengan nama Sangkuning.

Sengkuni bermakna “dari ucapan” Berasal dari kata saka dan Uni merupakan kata Sansekerta
Ada yang menyatakan karakter sifat seseorang saat ini terbentuk dan tercipta dari pengalaman hidup masa lalunya, konon katanya Sangkuni ini pernah di penjara oleh Destarata karena adiknya dinikahi oleh Destarata seharusnya Gandari adiknya Sangkuni dinikahi oleh Pandu tetapi ternyata Gandari dinikahi Destarata bukan Pandu, karena melawan membuat Sangkuni dipenjara bersama kedua orangtuanya hanya diberi makan sebutir nasi. Pengalaman hidupnya yang pahit ini membuat Sangkuni jadi tokoh yang licik, suka mengadu domba, suka memfitnah orang, penuh tipu daya dan suka mencelakakan orang. Pengalaman nya di penjara oleh Destarata membuat Sangkuni bertekad memecah belah Pandawa dan Kurawa karena sakit hatinya pada Destarata dan Pandu

Masa lalu Sengkuni menjadi salah satu alasan kuat mengapa ia menjadi jahat karena hal tersebut terjadi sebagai dampak dari perlakuan kejam yang ia alami bersama orangtua dan saudara-saudaranya.

Karakter Sangkuni masih ada hingga saat ini menebar hoaks untuk mempolarisasi dan menggiring opini khalayak demi mendapatkan kekuasaan. Sesudah mereka berkuasa, mereka berangkulan dan berbagi kekuasaan. Sementara itu rakyat sudah terpecah belah, hal ini jangan sampai terjadi

Ada 2 versi gugurnya Sangkuni di medan perang Baratayuda pada hari ke 18, Ada pendapat yang Mengatakan Sangkuni gugur di tangan Sadewa, tetapi Ada yang mengatakan Sangkuni gugur di tangan Bima