Regional

Keterlibatan Warga Tionghoa dalam Perjuangan Bangsa

Bandung.Swara Jabbar Com.-

Oleh Jeremy Huang Wijaya
地球所在的地方,天空就在我们居住的地方支撑、奋斗和繁荣
Dìqiú suǒzài dì dìfāng, tiānkōng jiù zài wǒmen jūzhù dì dìfāng zhīchēng, fèndòu hé fánróng artinya dimana bumi berpijak disitu langit dijunjung perjuangkan dan sejahterakan dimana kita tinggal

Tulisan ini terdiri Dari beberapa bagian
Bagian pertama kita akan membahas
Geger Pecinan (1741-1743 Dan 1750) Ada lah perjuangan orang Tionghoa yang dibantu Raja di Jawa melawan Vereenigde Oostindische Compagnies (VOC) yang meletus di Jawa Tengah Dan Jawa Timur. Tepatnya di Lasem Dan Tuban. Peristiwa ini berawal setelah tentara VOC membantai 10.000 orang Tionghoa di Batavia. Geger Pecinan di kenal dengan tragedi Angke. terjadi di batas Kota pada tgl 9 Oktober-22 October 1740 berbagai pertempuran Kecil hingga akhir November 1740. Hal ini terjadi dipicu oleh represif Dari VOC, berkurangnya pendapatan akibat jatuhnya harga gula.

Dewan Hindia Raad Van Indie badan pemimpin VOC Gubernur Jendral Adrian Valckenier memberikan perintah setiap kerusuhan apapun dilawan dengan kekerasan mematikan, aturan itu dikeluarkan tanggal 7 October 1740 yang di duga di pimpin Kapitan Tionghoa Ni Hoe Kong membunuh 50 pasukan VOC di Meester Cornelis sekarang Jatinegara, VOC mengirim 1800 pasukan tetap yang ditemani schutterij (milisi) Dan sebelas batalyon wajib militer untuk menghentikan pemberontakan melaksanakan jam malam Dan membatalkan perayaan imlek. Mereka takut Jika orang Tionghoa berkomplot pada malam hari, yang tinggal di dalam batas Kota dilarang menyalakan lilin Dan menyerahkan semua barang berbahaya termasuk pisau Kecil. Pada hari berikutnya VOC membantai 10.000 orang Tionghoa di Batavia,

Ketika peristiwa Geger Pecinan di Batavia tahun 1740 banyak Warga Tionghoa dibawah ke pemimpinan Khe Panjang melarikan diri ke Lasem untuk mengungsi. Kedatangan mereka disambut Adipati Lasem Tumenggung Widyaningrat (Oei Ing Kiat) mereka membuka perkampungan di Lasem. Bersamaan dengan berkobarnya pemberontakan melawan Kompeni oleh gabungan pasukan Jawa Tionghoa melawan VOC Adalah Kapitan China Sepanjang, Pangeran Mangkubumi Dan Raden Mas Said.

Pangeran Mangkubumi kelak menjadi Sultan Hamengkubuwono I Dan Raden Mas Said atau Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa kemudian menjadi KGPAA Mangkunegara I. Pasukan pemberontak Dari Lasem di kenal dengan Nama Laskar Dampu Awang Lasem awal mulanya berhasil menguasai Rembang, tetapi menderita kekalahan saat menyerang Jepara, disertai gugurnya Tan Kee Wie, tahun 1742. Peperangan berhenti ber tahun tahun hingga akhir nya pemberontakan kembali di kobarkan oleh Kyai Ali Badawi tahun 1750. Perang tahun 1750 Raden Panji Margono diikuti oleh Oei Ing Kiat mengalami kekalahan Dan gugur

Pasukan Raden mas Garendi dan pemimpin Tionghoa, Kapiten Sepanjang bergerak merebut Kraton Kartasura. Tanpa perlawanan, mereka berhasil menguasai alun-alun Kartasura pada 30 Juni 1742. Akhir nya Raden Mas Garendri di nobatkan sebagai Raja Mataram dengan Gelar Sunan Amangkurat IV julukannya Sunan Kuning