Regional

Lontong Cap Go Meh dan Telor Pindang Lambang Keberuntungan

Bandung.Swara Jabbar Com.-

Oleh Jeremy Huang Wijaya

24 Februari 2024 adalah perayaan Cap Go Meh yaitu perayaan malam ke 14 sesudah perayaan Imlek. Atau perayaan penutup rangkaian perayaan Imlek.

Banyak jenis makanan dan masakan akulturasi masyarakat Tionghoa dengan penduduk setempat seperti Nasi Lengko, cap tjay, nasi goreng, bubur bak moy, lun pia, tahu gejrot dan lain lain.
Salah satu diantaranya adalah Lontong Cap Go Meh adalah sajian makanan yang dihidangkan saat perayaan Cap Go Meh.

Para pendatang Tionghoa pertama kali bermukim di kota kota pelabuhan di pesisir Utara Jawa misalnya Semarang, Pekalongan, Lasem, Tuban, Kudus, Dan Demak berlangsung sejak jaman Majapahit. Saat itu yang datang kaum laki laki etnis Tionghoa karena ada larangan dari Pemerintah Tiongkok China bagi kaum pria yang akan merantau berdagang dilarang membawa istri dan anak anaknya. Jadi kaum laki laki yang merantau seorang diri menikah dengan wanita warga setempat ditempat perantauan.

Hal ini melahirkan perpaduan budaya Peranakan Tionghoa Jawa.
Saat Cap Go Meh, kaum Peranakan Tionghoa Jawa menggantikan hidangan yuanxiao (bola bola tepung beras ) dengan Lontong yang disertai berbagai hidangan tradisional Jawa yang kaya rasa seperti opor ayam,,telor dan sambel goreng. Lontong Cap Go Meh lambang Asimilasi warga Tionghoa dengan penduduk di Jawa.

Lontong Cap Go Meh mengandung lambang keberuntungan dan lambang panjang umur, warga Tionghoa memiliki kepercayaan selama perayaan Imlek tidak boleh makan bubur, oleh sebab itu mereka menggantikan bubur dengan Lontong karena bentuk Lontong panjang melambangkan panjang umur, sementara kuah santan yang dibumbui kunyit berwarna kuning keemasan melambangkan keberuntungan. Telor lambang awal kehidupan.

Dimulai nya kehidupan”Bahan utama Lontong disajikan dengan opor ayam, sayur lodeh, telor sambal goreng ati, pindang telur, bubuk koya, sambal, acar, emping dan kerupuk”
“Telur pindang dikenal dengan nama telur teh di China dan sebagai marble egg (lit. “telur marmer”) dalam bahasa Inggris. Penamaan tersebut disebabkan oleh telur pindang yang memiliki pola kecokelatan mirip dengan marmer. Jenis telur yang digunakan biasanya adalah telur ayam.